Forum DAS NTT Dorong Pengelolaan DAS dan Mangrove Berkelanjutan Melalui Kolaborasi
Kupang, 24 September 2026 — Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai (DAS) dan ekosistem mangrove di Provinsi Nusa Tenggara Timur perlu
dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan melalui kolaborasi berbagai pihak.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama Kepala
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT dalam Rapat Forum DAS
Provinsi NTT yang mengangkat tema “Pengelolaan DAS dan Ekosistem Mangrove
Berkelanjutan melalui Kolaborasi Forum DAS di NTT.”
Dalam arahannya, Kepala DLHK NTT menekankan bahwa
DAS dan mangrove harus dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem. Kondisi yang
terjadi di wilayah hulu dapat memberikan pengaruh hingga ke wilayah tengah,
hilir, pesisir, dan kawasan mangrove. Karena itu, pengelolaan DAS tidak dapat
dilakukan secara terpisah oleh masing-masing pihak, tetapi membutuhkan
koordinasi dan kolaborasi lintas sektor.
Forum DAS NTT diharapkan tidak hanya menjadi ruang
untuk melakukan rapat dan diskusi, tetapi juga menjadi forum kolaborasi dan
aksi. Setiap pertemuan diharapkan menghasilkan langkah konkret, mulai dari
penentuan kegiatan, lokasi, pihak yang bertanggung jawab, mitra, waktu
pelaksanaan, hingga indikator keberhasilan.
Selain itu, diperlukan pembangunan basis data
DAS dan mangrove NTT yang terintegrasi. Data tersebut mencakup kondisi DAS,
kawasan yang mengalami tekanan, tutupan lahan, erosi dan sedimentasi, hingga
kondisi ekosistem mangrove serta masyarakat yang bergantung pada ekosistem
tersebut.
Data dari berbagai instansi perlu dikonsolidasikan
agar dapat menjadi dasar dalam menentukan kebijakan dan mengambil keputusan
bersama.
Dalam pengelolaan mangrove, perlindungan terhadap
kawasan yang masih dalam kondisi baik juga menjadi perhatian. Upaya pengelolaan
tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove, tetapi juga memastikan kawasan
mangrove yang masih baik tetap terlindungi.
Sementara itu, kawasan mangrove yang telah
mengalami kerusakan perlu direhabilitasi berdasarkan kondisi dan penyebab
kerusakannya. Keberhasilan rehabilitasi tidak hanya diukur dari jumlah bibit
yang ditanam, tetapi juga dari pertumbuhan mangrove, pemulihan ekosistem, serta
manfaat yang kembali dirasakan oleh masyarakat.
Kepala DLHK NTT juga menekankan pentingnya
memperkuat penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem
Mangrove (RPPEM) NTT. Dokumen tersebut diharapkan memberikan arah yang
jelas mengenai kawasan yang perlu dilindungi dan dipulihkan, strategi
pengelolaan, keterlibatan masyarakat, pembagian tanggung jawab, serta ukuran
keberhasilan.
Penyusunan RPPEM NTT diharapkan dilakukan secara berbasis
data, ilmiah, partisipatif, dan lintas sektor.
Keterlibatan masyarakat juga menjadi bagian penting
dalam pengelolaan DAS dan mangrove. Masyarakat, pemerintah desa, serta
kelembagaan lokal perlu diperkuat agar tidak hanya menjadi penerima manfaat,
tetapi juga menjadi pelaku dalam perlindungan dan pengelolaan ekosistem.
Pengelolaan DAS dan mangrove juga perlu dihubungkan
dengan pembangunan kawasan perbatasan NTT, terutama pada wilayah yang memiliki
keterkaitan antara DAS, pesisir, mangrove, dan masyarakat perbatasan. Dengan
keterbatasan sumber daya yang tersedia, penentuan prioritas menjadi penting
berdasarkan data dan tingkat urgensi.
Rapat Forum DAS NTT tersebut menghadirkan tiga
perspektif, yaitu dari DLHK mengenai arah pengelolaan DAS dan mangrove serta
penguatan kolaborasi Forum DAS; Badan Pengelola Perbatasan Daerah Provinsi NTT
mengenai keterkaitan pengelolaan DAS dan mangrove dengan pembangunan kawasan
perbatasan; serta perspektif ilmiah dari Prof. Dr. Ir. Jeriels Matatula,
M.Sc., IPU mengenai pengelolaan, perlindungan dan pemulihan ekosistem serta
penyusunan RPPEM.
Melalui rapat tersebut, diharapkan lahir lima hasil
utama, yaitu kesepahaman mengenai keterkaitan DAS, pesisir, dan mangrove;
konsolidasi data DAS dan mangrove NTT; identifikasi kawasan prioritas
perlindungan dan pemulihan; arah yang jelas untuk mendukung penyusunan RPPEM
NTT; serta rencana tindak lanjut Forum DAS dengan pembagian peran yang jelas.
Forum DAS NTT diharapkan menjadi wadah untuk menyatukan
data, kebijakan, program, dan aksi. Kolaborasi menjadi kunci karena
pengelolaan DAS dan mangrove tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri.
Dengan data yang sama, tujuan yang sama, pembagian
peran yang jelas, serta komitmen untuk bekerja bersama, Forum DAS NTT
diharapkan dapat menjadi kekuatan bersama dalam menjaga keberlanjutan DAS dan
ekosistem mangrove sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat Nusa Tenggara
Timur.
.png)
Komentar
Posting Komentar